02/01/17

,

Day 7 - Negeri Dongeng Venice

Panorama Express hanya mengantarkan kami sampai gerbang Italia saja, Tirano. Kami harus berganti kereta lagi sebelum menuju Milan. Sesaat sebelum kereta berangkat, kami mencoba mencicipi pizza dan gellato. Ternyata, ini benar-benar Italia, bung!



Kereta kali ini berbeda drastis dari Panorama Express. Ini mirip kereta ekonomi di Indonesia pada umumnya. Walau begitu, di kereta ini banyak bangku yang tak terisi. Dengan begitu kami bisa berbaring dengan nyamannya. Lima jam perjalanan akan kami tempuh. Sambil terkantuk-kantuk, sesekali aku melihat ke luar jendela kaca, memandangi rumah-rumah warga yang menyapa.

Milan bukanlah tujuan utama kami saat itu. Kami tak sempat berkeliling kota. Dari Milan kami langsung meluncur ke negeri air, Venice! Atau di Italia sering dituliskan Venezia de Santa Lucia. Ya, saat itu memang seperti mimpi. Sesaat setelah berjalan keluar stasiun, kami disambut gemercik air dan gondola-gondola yang berjajar rapi.




Aku masih setia dengan bacpack-ku. Barang-barang yang membuat berat adalah laptop dan oleh-oleh dari Rusia untuk keluarga. Setelah sampai kami belum tahu akan menginap dimana. Jadi sambil berjalan menggendong tas yang berat, kami mencari hotel tempat menginap.

Kedatanganku di Venice adalah mimpi yang terwujud. Venice bagiku seperti taman bermain dalam wujud kota. Setiap sudut kota ini adalah wisata nan mengasyikkan!




Akhirnya kami menemukan hotel. Setelah melalui proses check-in, kami diarahkan resepsionis ke kamar dengan dua kasur. Hotelnya sudah tua, malah seperti losmen. Langit sudah mulai menghitam. Perjalanan dengan tiga kereta membuat kami lelah sekali.  Aku juga tak ingin beranjak keluar. Kupasang alarm dan mulai kupejamkan mata, mengumpulkan energi untuk esok hari.

Esok harinya kami berencana berkeliling kota Venice. Moda transportasi di sini hanya kapal. Kami membeli tiket kapal untuk sehari penuh seharga 20 euro. Karena suatu alasan, aku dan Efan berpisah dan berkeliling Kota Venice sendiri-sendiri. Peta kota ini sudah di tangan. Bekalku hanya kamera dan semangat yang menggebu-gebu. Dari peta itu aku memilih beberapa landmark dan tempat mana saja yang harus aku singgahi, salah duanya adalah St Mark's Square dimana tedapat gereja dan musium lalu Ponte di Rialto yaitu sebuah pelabuhan yang di sepanjang jalannya merupakan pasar tempat menjual pernak-pernik nan ciamik.







Ada seribu jalan menuju ke Roma dan ada beribu alasan untuk kembali ke Venice!

Share: