03/11/16

,

Day 6 - Terdampar di Samedan

Pengumuman mengatakan bahwa keretaku sudah tiba. Penumpang dipersilakan menempati kursinya masing-masing. Petugas peron bersiap memberi aba-aba kereta akan segera diberangkatkan. Masinis pun memencet tombol untuk membunyikan sirinenya. Kereta perlahan-lahan melaju meninggalkan Kota Zurich.

Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang menakjubkan. Hamparan hutan nan hijau yang kian menyegarkan mata. Puncak gunung bersalju yang sesekali memperlihatkan wujudnya di balik pekatnya kabut. Juga terlihat rumah-rumah warga bergerombol di bukit-bukit.



Tujuan kami kali ini ialah Samedan. Terletak satu stasiun sebelum Saint Moritz. Samedan adalah sebuah desa yang mana hanya terdapat ratusan rumah saja, selebihnya ladang yang terhampar luas. Di desa ini kami mendapatkan tumpangan gratis dari couchsurfing.

Namanya Alex, seorang kontraktor yang sedang memiliki proyek pembangunan stasiun di Saint Moritz. Ia sudah menerima kami untuk menginap sekitar sebulan sebelum kami tiba. Aku berkata pada Alex bahwa kami akan datang di tengah malam, tetapi rencana berubah secara dinamis. Di Zurich kami hanya sebentar saja dan ingin segera menikmati pesona alam Switzerland.





Beruntung sekali kami memiliki Alex di Swiss. Kami bisa berhemat satu-juta-an lebih untuk dapat hidup di negara ini. Dan kebetulan, rumah Alex benar-benar mirip penginapan, sangat nyaman untuk ditinggali. Alex hidup sendirian di Samedan. Ia pribadi riang dan penuh kasih. Ia telah terbiasa menerima para pejalan yang sedang berkunjung ke Samedan. Di malam hari Alex memasakkan kami pasta dengan daging sapi. Kami pun bersantap malam dan berbincang dengan hangatnya.

Saat waktu menunjukkan pukul delapan malam, aku mencoba keluar untuk berkeliling Desa Samedan. Langit Samedan masih sedikit terang saat itu. Aku berjalan menaiki bukit di belakang desa. Segerombolan kerbau aku pergoki sedang mandi bersama di pinggir mata air. Sambil menghirup nafas dalam-dalam, aku mencoba memejamkan mata, meresapi detik demi detik yang sudah kulalui. Aku tak lari dari masalah. Aku hanya mencoba tuk melupakannya sementara. Tempat ini sangat pas bagi mereka yang ingin berpikir ataupun sekadar menenangkan diri.





Langit merah dan oranye menambah corak kebahagiaanku. Gunung-gunung ikut tersenyum dari kejauhan. Aku bertanya, apakah hadirku mengganggu mereka? Gunung pun bungkam, langit juga demikian..

Tak terasa hari menjadi semakin gelap. Samedan menjadi seperti desa mati yang tak berpenduduk. Aku kembali ke rumah Alex untuk beristirahat.




Pagi hari datang lagi, begitu cepat. Mentari tak lelahnya hadir dengan cahaya yang merekah. Alex telah meninggalkan kami ke Saint Moritz untuk bekerja. Ia telah menyiapkan sarapan untuk kami berdua di meja makan. Sedangkan kami pagi ini harus melanjutkan perjalanan ke negara selanjutnya. Kami sebelumnya sudah berpamitan dengan Alex untuk bertolak pagi ini.

Aku dan Efan berjalan kaki dari rumah Alex menuju Stasiun Samedan. Kami menuju Saint Moritz karena dari sanalah kereta kami akan diberangkatkan. Dari Saint Moritz kami akan meluncur ke Italia melewati perbatasan Tirano. Kami menaiki kereta Panorama Bernina Express. Kereta terbaik yang pernah kunaiki. Kaca kereta ini lebar dan memanjang hingga hampir ke atap gerbong. Kami disuguhkan pemandangan Pegunungan Swiss di sepanjang perjalanan. Salah satu momen terbaik yang tak akan pernah kulupakan. Menaiki kereta sepanjang pegunungan dengan ketinggian lebih dari 2000 mdpl. Perjalanan memakan waktu lima jam, walau begitu kami tidak merasa bosan sedikitpun. Malah ingin mencoba lagi dan berharap benar-benar akan kembali suatu saat nanti.






Share: