22/10/16

Day 2 - Masih di Paris

Tetap aku paksakan untuk terbangun pagi-pagi sekali, walaupun kantuk sebenarnya masih menarik-narik ragaku. Tetapi keindahan Kota Paris tak ingin aku lewatkan. Ceritaku masih berlanjut, di kota ini.

Kulangkahkan kaki menyusuri jalanan yang sepi dan lengang. Suasana Parc de Pountin tak terbantahkan damainya. Hiruk pikuk kota megapolitan tak tampak di sini. Orang-orang dan burung-burung mengalir tenang dan mengalun-alun mengikuti desiran waktu.

Aku seringkali tak mengerti. Ada apa dengan manusia? Apa yang terjadi dengan mereka? Sering kujumpai segala pernak-pernik bergambar suatu bentuk yang sama, suatu lambang dari sebuah kota. Lambang cinta juga, katanya.

Kuikuti jalur metro satu per satu. Aku menuju ke tempat, dimana orang-orang sering melukiskannya ke dalam barang atau perabot mereka. Ke tempat, dimana banyak orang mendambanya. Dimana para pasangan ingin menghabiskan waktunya di sini. Di kota yang romantis, di bawah lambang kota yang eksotis, Eiffel Tower.

Dari kejauhan sudah kupandangi lekat-lekat. Sambil menyusuri Sungai Seine, pandanganku tak terganti, diselingi rimbunnya dedaunan pohon-pohon di musim panas. Semakin mendekat, semakin lekat pula pandanganku akan menara itu. Menara yang merobek langit, mencengkeram erat bumi, dan berdiri dengan gagahnya. Aku terkagum tak bersuara. Bukan hanya karena Menara Eiffel saja. Tetapi karena paduan yang pas dan takaran yang tepat yang mengelilingi menara itu. Suasana di bawah menara sakral yang amat sangat begitu indah, begitu romantis. Sulit untuk dilupakan. Aku sesekali menatap perahu yang berlalu lalang di Sungai Seine. Aku hanya bersama Efan, yang kami sama-sama menyukai wanita. Mungkin suatu saat aku kan kembali lagi.





Masih di sekitaran Menara Eiffel, aku mencoba mencari warung makan yang nikmat untuk mengisi perut yang kosong sedari tadi. Bagiku sulit untuk makan normal di Eropa. Normal yang berarti bagi orang Indonesia yaitu makanan yang terdiri dari nasi, lauk pauk, dan sayuran. Jikalau ke restoran hanya akan memeras kantong saja. Fastfood selalu menjadi solusi. Untuk saat ini.

Setelah tenaga terisi, aku melanjutkan perjalanan ke Stadion St Denis. Sederhana saja, saat ini sedang berlangsung Euro Cup, tepat di Prancis. Bila ditanya apa hal yang paling berkesan di masa kecilmu, aku akan menjawab bahwa salah satunya adalah sepak bola. Bahkan hingga saat ini, sepak bola kerap mengambil alih perhatianku. Permasalahannya hanya satu, yaitu harga tiket. Tiket termurah dibanderol dengan harga tiga juta! Akan makan apa diriku beberapa hari ke depan? Ya sudah, kuputuskan untuk berada di luar stadion saja, menikmati gegap gempita yang ada. Prancis menurutku sangatlah siap menggelar turnamen akbar ini. Umbul-umbul dan baliho menghiasi di setiap sudut Kota Paris. Penunjuk arah bahkan dilukis dengan apik di trotoar dari stasiun kereta hingga ke stadion. Fanzone, tempat nonton bareng dengan layar raksasa tersedia di tempat-tempat umum di pelataran yang luas.





Hari mulai senja. Aku balik kanan dari stadion. Ingin kuhabiskan malam di sekitaran Gereja Notre Dame. Kafe-kafe berjajar rapi dengan kursi-kursi yang telah ditata di trotoar. Lampu-lampu kota memancar dan dipantulkan lagi oleh beningnya Sungai Seine yang terus mengalir tak henti-hentinya.




Rupanya malam itu belum berakhir. Efan mengajakku untuk kembali ke Menara Eiffel untuk melihat bagaimana wajahnya di malam hari. Warna-warni sinar lampu membalut besi-besi raksasa itu. Luar biasa indahnya. Syahdu. Aku lalu tersenyum kecil. Lagi-lagi aku berharap: mungkin aku akan kembali lagi. Tidak. Aku pasti kembali lagi suatu saat. Bersamamu. Bayang-bayangku.


Share:

Your Seat Number

I Was Here

Novardin’s Travel Map

Novardin has been to: France, Greece, Indonesia, Italy, Malaysia, Netherlands, Russia, Singapore, Spain, Switzerland, Thailand.
Get your own travel map from Matador Network.

Contact

Nama

Email *

Pesan *