13/10/16

Day 1 - Menginjak Paris, Menjajah Eropa

Aku dan Efan telah berpindah dari KLIA2 ke KLIA1. Semua terasa begitu cepat. Sepertinya baru kemarin kita merencanakan semua ini. Kini tinggal selangkah lagi untuk bisa menginjakkan kaki di benua biru.

Aku membungkus bacpack-ku dengan plastik wrap. Plastik, lakban, dan silet semua sudah kusiapkan dari Irkutsk. Lalu kuantarkan backpack itu menuju counter check-in agar dibagasikan saja karena masih ada ransel kecil yang harus kugendong.

Waktu tepat menunjukkan pukul 19.00. Satu jam lagi aku harus boarding ke pesawat tujuan Paris dengan transit terlebih dahulu di Bandara Abu Dhabi.


Sebenarnya aku baru pertama kali menaiki pesawat bintang lima, dalam hal ini Etihad. Perasaanku campur aduk. Ada senang dan gugup terasa. Pesawat yang sering kulihat di video youtube. Jadi, aku suka bervisualisasi apa saja yang akan aku lakukan sebelum perjalanan dimulai. Kursi yang berjajar 2-4-2, layar TV di depan kita dengan remote dan headset-nya, bantal leher, kaos kaki, serta penutup mata menjadi pelengkap fasilitas di pesawat itu. Sampailah di Abu Dhabi setelah 7 jam terbang. Langsung kita disambut udara panas malam hari. Lama transit sekitar 4 jam. Waktu tersebut aku gunakan untuk merebahkan diri di ruang tunggu sambil makan nasi bungkus yang sempat kubeli di KLIA2.

Sebelum boarding lagi menuju ke Paris, aku melewati dua kali pengecekan dokumen. Yang pertama agak menyita waktu lama. Penumpang lain terpaksa menunggu karena diriku. Masalahnya terdapat pada visa schengen-ku. Memang sih schengen, tapi dikeluarkan oleh pihak Polandia sedangkan aku akan ke Paris. Apakah aku akan benar-benar ke Polandia atau tidak? Mungkin kurang lebih seperti itu yang dipertanyakan oleh petugas yang berwenang. Jantungku berdegup kencang. Jikalau tak diijinkan boarding, akan kemana kah diriku malam itu?

Akhirnya aku bisa masuk pesawat, syukurlah. Tapi, jantungku masih berdegup kencang. Tatkala pesawat mendarat di Bandara Paris, aku harus melewati bagian imigrasi lagi. Duh. Pastinya aku sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk nantinya. Diinterogasi berjam-jam, lalu dideportasi. Alasan demi alasan sudah mantap aku rencanakan, walau rasa optimis hanya tinggal beberapa persen saja sebenarnya. Visaku kan visa schengen? Mencakup beberapa negara di Eropa.  Hanya saja masuk melalui negara yang bukan mengeluarkan visa itu. Kini, sampailah giliranku untuk menghadap petugas imigrasi. Aku tenang dan berusaha menyembunyikan rasa takutku. Petugas itu mengecek paspor, visa, dan boarding pass-ku sambil sesekali ia bertanya.
"Benar mau ke Polandia?" tanyanya.
"I...iya," terpaksa harus kukatakan, walaupun Polandia sebenarnya tak masuk itinerary-ku. Aku membuat visa schengen melalui Kedutaan Polandia karena hanya terdapat kedutaan itu di kotaku, Irkutsk. Aku bisa saja membuat melalui agen dan didaftarkan ke Kedutaan Prancis, tapi jelas itu akan membutuhkan biaya yang lebih.
"Bisa berbahasa Polandia?" lanjutnya.
"Hmm, saya bisanya bahasa Rusia," jawabku.
Setelah singkat bertanya, petugas itu lalu mengecap di halaman kosong dekat visa schengen. Alhamdulillah, ternyata aku tidak harus menghadapi kemungkinan terburuk. Tidak sampai 1 menit pula. Ya Allah, aku girang sekali! Halo Paris!



Aku dan Efan bergegas menuju tempat pembelian tiket kereta terusan  untuk 3 hari selama di Paris. Ternyata setelah dipikir kembali dan baru kita sadari amat sangat mahal! 50 euro saja. Lebih baik membeli eceran saja bila tak sering menggunakan transportasi umum. Ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Baru hari pertama di Eropa, sudah mengeluarkakan uang sebegitu banyaknya. Coba kalau dirupiahkan.

Tujuan kita selanjutnya yaitu apartemen Soha. Soha adalah host kami yang sudah kami pesan untuk menginap di apartemennya jauh hari melalui situs Airbnb. Kita datang 3 jam terlalu cepat. Kini jam 8 pagi, harusnya kita datang jam 11 sesuai janji. Kita bermaksud untuk meletakkan barang-barang terlebih dahulu baru akan check-in belakangan. Berulang kali bel kita tekan, berulang kali menelepon Soha, dan berulang kali juga tak ada jawaban. Kami selingi dengan berjalan-jalan di sekitar gedung apartemennya yang suasananya sangan nyaman dan tenang. Lalu kembali lagi. Masih belum ada jawaban. Kami selingi lagi dengan minum kopi di cafe terdekat, lalu kembali lagi saat waktu sudah benar-benar menunjukkan pukul 11.00. Pintu terbuka. Kita langsung mendapat semprot karena sesungguhnya dari tadi kita telah mengganggu Soha yang sedang tidur. Juga, sebenarnya masih ada tamu lain. Pelajaran keduapuluhsatu: bila sudah berjanji jangan datang terlambat, pun jangan datang lebih cepat.

Selesai urusan check-in, sesuai saran Soha, kita langsung menuju Montmartre. Kita menaiki metro dengan telah mempelajari jalur-jalurnya terlebih dahulu. Ternyata di Paris ada Stasiun Stalingrad, nama salah satu kota besar di Uni Soviet. Rute metro di Paris tidaklah sulit. Peta dari internet sudah cukup untuk menemani. Ditambah tanda atau penunjuk arah di setiap stasiun.


Montmartre atau lengkapnya Basilica de Sacre-cceur de Montmartre adalah sebuah gereja megah yang di depannya terdapat halaman yang luas. Gereja ini terletak di puncak bukit sehingga kita perlu menaiki ratusan anak tangga untuk bisa mencapainya. Banyak sekali muda-mudi yang bertamasya kemari. Dari atas bukit kita bisa melihat pemandangan kota Paris nan indah. Di dalam gereja ini menyajikan seni arsitektur yang unik. Bila berkunjung kemari, harap berhati-hati karena sebelum menaiki anak tangga akan banyak yang menawarkan permainan gelang. Mereka sangat memaksa hingga berani menarik-narik tangan kita. Tentu saja setelah permainan itu mereka akan menagih uang. Itulah scam. Sembunyikanlah tangan kalian, tanpa melempar batu karena banyak juga polisi di
sekitar.




Hari ini kami tutup di Arc de Triumphe, sebuah monumen yang mirip seperti gapura raksasa yang terletak di tengah jalan raya Kota Paris. Di dinding gapura kemenangan ini tergores nama-nama tentara dari Napoleon Bonaparte.




Lelah rasanya hari ini. Sesampainya di apartemen Soha kita dapat semprot lagi. Jadi ceritanya, sebelum ke Arch de Triumphe Aku dan Efan istirahat sebentar di apartemen dan tentu saja mandi. Aku mandi 20 menit dan Efan mandi 10 menit. Kupikir itu hal yang biasa, kita sudah membayar dan kita dapat memanfaatkannya sepuasnya. Tapi ternyata tidak, ada rule yang terlupakan, bahwa air di apartemen ini akan mati secara otomatis setelah 30 menit penggunaan per hari. Sedangkan Soha selesai berolahraga waktu itu. Ia pun tak dapat mandi dan menuangkan amarahnya ke kami berdua. Kami berdua kembali ke kamar dengan rasa malu dan tidak enak. Maafkan kami yang udik!

...

Sejenak aku melupakan masalah-masalah yang terjadi dan mencoba mengambil suatu hikmah yang kudapat hari ini. Lelah sebenarnya dapat dikalahkan oleh keinginan yang kuat. Sebuah pembelajaran yang hendaknya kita implementasikan dalam setiap pekerjaan, dalam setiap hal dalam hidup. 
Share:

Your Seat Number

I Was Here

Novardin’s Travel Map

Novardin has been to: France, Greece, Indonesia, Italy, Malaysia, Netherlands, Russia, Singapore, Spain, Switzerland, Thailand.
Get your own travel map from Matador Network.

Contact

Nama

Email *

Pesan *