29/10/16

,

Day 4 - Amsterdam Kota Favoritku

Barang-barang yang ditipkan di hotel sudah kami ambil. Amsterdam menjadi tujuan kami selanjutnya. Pertama, kami harus menuju terminal Eurolines yang letaknya di ujung jalur metro arah timur. Masih terlalu awal kami tiba di terminal itu. Kami pun bertemu dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Jerman yang sedang ber-traveling juga. Sambil menunggu jadwal keberangktan bis, kurebahkan badanku ke lantai terminal tanpa alas.

Tepat pukul 23.00, bis meninggalkan Kota Paris. Eurolines sama seperti bis-bis pada umumnya. Dijadwalkan kita akan sampai di Amsterdam pukul 08.00. Sekalian menghemat uang penginapan karena malam ini kami akan bermalam di perjalanan.

.....

Matahari belum meninggi. Aku disambut udara Amsterdam yang dingin menusuk. Mataku masih sayu. Tidur di bis memang jauh dari kata nyaman. Bagaimanapun, perjalanan harus tetap dilanjutkan.

Setelah membeli tiket, masuklah kami ke dalam gerbong kereta. Stasiun sentral menjadi tujuan awal kami. Amsterdam menyuguhkan nuansa yang berbeda. Arsitektur dan tata kotanya unik. Baru keluar dari stasiun sentral aku sudah langsung jatuh cinta. Sungai-sungai dan kanal-kanal selalu ada di setiap pandangan mata. Bangunan-bangunan berhimpit dan tinggi menjulang. Orang-orang berlalu-lalang dengan sepeda onthelnya.





Di Amsterdam kami menginap di apartemen lagi yang kami pesan melalui Airbnb. Letaknya lumayan jauh dari pusat kota. Kami mencapainya dengan trem dari stasiun sentral.

Setelah urusan check-in selesai, langsung kami kembali ke pusat kota. Urusan perut memang tak bisa diajak kompromi. Pun kami sudah muak dengan makanan fastfood yang hanya sebatas roti, kentang, dan minuman bersoda. Kalap dan khilaf merasuki diri kami. Kami menuju restoran Indonesia yang ada di Kota Amsterdam. Aku mengambil paket menu seharga lima-ratus-ribu-rupiah! Lengkap dengan hidangan pembuka dan penutup.



Angin di Amsterdam berbeda. Ia lebih kencang berhembus. Menyeimbangkan hangatnya sinar mentari yang memancar. Aku bahagia. Angin itu tak menghantarkan daun-daun kering dan debu-debu yang kotor. Kuikuti panduan di google map untuk menuju tempat dimana terdapat tulisan IAMsterdam.



Hari menjelang malam. Itu berarti bahwa Red Light District sudah mulai beroperasi. Jangan salah, kami hanya ingin menikmati suasananya saja. Toh, banyak juga kafe ataupun toko souvenir di tempat itu. Hehe. Setelah puas berkeliling, kembali kami ke apartemen untuk beritirahat.




Pagi hari hadir kembali dalam catatan hidupku. Kami menyempatkan diri melihat kincir angin raksasa. Setelah itu kami bergegas ke bandara untuk melanjutkan perjalanan ke negara berikutnya. Selamat tinggal kota favoritku dan semoga kita berjumpa lagi, Amsterdam.

Share: