21/09/16

Pre-Europe Trip: Menyiapkan Tenaga di Kuala Lumpur

Dann, temanku asal Kanada, telah tertidur pulas. Suasana menjadi gelap. Lorong-lorong apartemen itu begitu sepi. Oh tidak, ini masih dini hari! Tapi, aku sudah harus bertolak menuju Kuala Lumpur. Dann memang mempersilakanku keluar kapan saja. Aku hanya perlu meletakkan kuncinya di loker yang berada di lantai apartemen paling dasar.
"Mbak, minta tolong pesankan taksi ke Don Mueang," pintaku kepada petugas yang piket malam di front office.
"Baik Mas, silakan tunggu sebentar."
Setelah beberapa saat taksipun datang. Dengan sekejap aku telah meninggalkan apartemen mewah itu menuju Bandara Don Mueang. Tujuanku kali ini ialah Kuala Lumpur, Malaysia.

...

Pagi ini sekitar pukul 10 sudah tiba aku di Kuala Lumpur International Airport 2. Langsung saja aku berusaha menuju hostel yang sudah kupesan tempo hari. Tiket KLIA Express sudah di tangan. KLIA Express merupakan moda transportasi kereta yang telah terkoneksi di bandara yang tentu saja sangat mahal, sekitar 50 ringgit. Sekadar mencoba saja, pikirku, padahal aku tidak tahu kalau ternyata ada yang lebih murah yaitu bis bandara yang hanya bertarif 11 ringgit saja dengan tujuan yang sama, KL Sentral.

Dari KL Sentral perjalanan masih kulanjutkan menuju stasiun dekat Pasar Seni. Di sanalah berjajar hostel-hostel tempat para pejalan berteduh. Selain harganya yang terjangkau, letak atau lokasinya begitu strategis, dekat dengan mana saja.




Belum genap seminggu berjalan badan ini rasanya sudah tak kuat lagi. Begitu urusan check-in rampung, aku langsung roboh di kasur. Aku tertidur sangat lama hingga maghrib hampir tiba.

Masih dengan mata yang sayu, rambut acak-acakan, serta pakaian seadanya, kucoba untuk berjalan keluar hostel. Jujur, perasaanku waktu itu senang sekali. Dua tahun tinggal di Rusia, kini aku berada di tempat dengan budaya hampir sama dengan asalku dan bahasa yang benar-benar aku pahami. Bahagia itu sederhana.

Ini pertama kalinya aku berjalan di Kota Kuala Lumpur setelah sebelumnya aku hanya transit di bandara saja. Sama sekali aku masih buta tentang kota ini.




Di tengah kebahagiaan yang kuraih, ada saja kejadian-kejadian yang tak mengenakkan mendera. Beberapa langkah keluar dari hostel ada seseorang tua berjubah datang menghampiriku. Berpura-puralah dia bertanya tentang letak suatu tempat dan kujawab bahwa aku tidak tahu. Lalu perasaan tidak enak itu semakin kuat. Dia tetap saja mengikuti langkahku dan menanyakan hal-hal yang tidak penting. Dan, akhirnya ia pun meminta uang. Huh, klasik! Dia sedikit memaksa, tetapi tetap saja aku memalingkan muka dan berlagak bisu. Ia pun pergi dengan umpatannya.

Aku berjalan menuju Masjid Jamek untuk melaksanakan sholat Ashar. Tiba saatnya, dimana hal yang tak mengenakkan terjadi kembali. Setelah sholat sandalku hilang. Aku ingat persis dimana aku meninggalkan sandalku, tapi entah kenapa lenyap tanpa jejak. Yang benar saja, aku mesti kembali ke hostel dengan bertelanjang kaki? Dengan pakaian seadanya dan kaki yang tanpa alas, menjadikanku mirip seperti gembel. Aku takut diciduk satpol PP KL! Aku lalu memberanikan diri untuk menayakan kepada seorang ibu di depan masjid perihal sandalku. Ibu itu langsung memanggil kakek yang budiman, mungkin ia seorang penjaga masjid, yang mencarikanku sepasang sandal dan diberikanlah kepadaku untuk dapat dibawa pulang. Tetapi aku berpikir lain, aku berusaha mencari toko sandal terdekat agar sandal yang ia beri ini bisa kukembalikan saja. Aku kelewat tidak enak ada orang Indonesia yang 'mengemis sandal' di Malaysia.

Setelah kejadian itu dan tentu saja sandal yang telah kukembalikan, aku kembali ke hostel. Sudah lelah rasanya dan aku lebih memilih untuk menenangkan diri saja. Aku teringat, bekalku masih tersisa sedikit. Kubawa mie instan dan kentang instan ke ruang makan hostel di lantai paling atas. Ruang makan itu tak bersekat sehingga aku dapat melihat gedung-gedung sekitar. Sepi rasanya. Lalu, datanglah seorang wanita, mungkin ia akan merokok, dan benar ternyata, Kini hanya ada aku dan dia. Aku berusaha memulai percakapan untuk membunuh kejenuhan. Kita berbagi pengalaman perjalanan. Belakangan kuketahui bahwa wanita muda itu berasal dari Spanyol.

Hari kedua di Kuala Lumpur aku hanya akan berjalan ke sekitaran hostel saja, sekitar Dataran Merdeka. Oiya, aku lupa memberitahu, di Kuala Lumpur ini aku memang tak berniat jalan-jalan. Di siang hari aku harus menjemput temanku di bandara dan kami memiliki penerbangan lain di malam hari. Praktis, selepas jalan santai pagi itu, aku bersiap-siap melanjutkan perjalananku kembali.









Share:

Your Seat Number

I Was Here

Novardin’s Travel Map

Novardin has been to: France, Greece, Indonesia, Italy, Malaysia, Netherlands, Russia, Singapore, Spain, Switzerland, Thailand.
Get your own travel map from Matador Network.

Contact

Nama

Email *

Pesan *