07/09/16

,

Pre-Europe Trip: Hinggap di Bangkok

Alarm telepon berbunyi diiringi dengan mulai meningginya sang mentari. Pagi itu seolah masih bermimpi. Bagaimana tidak, sepuluh bulan lamanya berkutat dengan buku dan hampir dua tahun lamanya aku berteduh di bawah putih-biru-merah.
Satu tahun yang lalu…
Kicauan burung Caika selalu saja memekakkan teilangaku. Hening dan syahdu suasana Irkutsk kerap menghiburku di tengah-tengah kesepian yang mendalam. Rencana demi rencana mulai aku susun dengan berujung pada suatu keputusan: aku pulang tahun depan.

Keputusan untuk pulang sudah final. Akan tetapi aku tak ingin pulang begitu saja. Tampaknya pundi-pundi ceritaku belum terisi sepenuhnya. Aku ingin berjalan. Aku ingin membawa sebanyak-banyaknya oleh-oleh dalam bentuk pengalaman.

Pada satu tahun itu aku terus memutar otakku demi pulang ke kampung halaman dengan jalur benua biru. Aku selalu berpikir tentang bagaimana dan kemana saja aku akan berpetualang dengan tentu saja tak ingin kehilangan focus utamaku, kuliah.

Tiket demi tiket telah terbeli. Daftar destinasi mulai tersusun rapi. Lalu aku butuh satu hal lagi, yaitu Visa Schengen. Pembuatan visa ini benar-benar menguras pikiran dan tenaga! Entah berapa kali aku bolak-balik ke kedutaan Polandia yang sangat jauh dari tempat tinggalku. Dan pada akhirnya semua dokumen lengkap dan benar. Aku diminta untuk datang sepuluh hari berikutnya setelah tentu saja membayar biaya pembuatan visa. Dalam sepuluh hari itu aku harap-harap cemas. Biaya yang tak sedikit membuatku gusar bila aplikasi visaku ditolak. Sepuluh hari berlalu, datanglah diriku ke kedutaan.

“Aplikasimu tidak meyakinkan.” berkali-kali si pewawancara berkata demikian yang sangat membuatku takut.
“Kamu benar ingin ke Polandia? Mengapa tiketmu masuk lewat Paris dan keluar lewat Madrid?” tanyanya bingung.
“Hmm sebenarnya saya mencari tiket yang paling murah, Pak, dan rutenya melalui kota-kota itu.” jawabku singkat. Aku harap dia sadar kalau aku pelajar sehingga aku mencari yang diskonan.
“Ini sudah kamu bayar belum?” tanyanya lagi.
“Su…sudah, Pak.”
Aduh! Aku lupa mencantumkan bukti pembayarannya. Langsung saja aku bertanya bolehkah aku menunjukkan buktinya melalui ponselku. Si pewawancara pun mengiyakan.
“Oke. Datanglah lagi besok Senin…..ya sudah tunggu sebentar.”

Si pewawancara masuk ruangan lain dan mungkin dia sedikit berpikir. Selang 10 menit dia keluar seraya menyerahkan pasporku yang sudah tertempel Visa Schengen. Hore! Visa Schengen dalam genggaman! Terimakasih ya Allah, Kau telah memudahkanku. 
Ujian akhir telah aku tuntaskan. Aku harus segera bersiap untuk 18 hari ke depan yang akan sangat melelahkan sekaligus menyenangkan tentunya. Backpack 60 liter dan ransel kecil sudah siap menemaniku. Berkali-kali aku membongkar pasang muatannya berharap mendapatkan posisi yang nyaman dan massa yang tidak terlalu berat. Tercatat beratnya mencapai 15kg, yang mana aku harus mencangklongnya beberapa hari ke depan.
….
Bangkok menjadi pelarian pertamaku. Di Bangkok aku memiliki waktu yang cukup lama, yaitu 5 hari 4 malam. Aku di sini memutuskan untuk tinggal dengan couchsurfer. Tetapi alangkah terkejutnya diriku ketika couchsurfer itu, orang Kanada, mempersilakanku masuk walau ia sedang tidak ada di rumah. Dia akan kembali keesokan harinya.

Setelah melalui beberapa stasiun MRT lalu berjalan sebentar, sampailah aku di apartemen orang Kanada itu. Sesaat sebelum masuk, aku menunggu orang yang memiliki kartu yang dapat digunakan untuk membuka pintu pengaman. Berpura-puralah aku mengikuti seseorang dan tibalah aku di locker room, dimana orang Kanada meletakkan kunci kamarnya dan menyuruhku untuk mengambilnya. 

Kamarnya terletak di lantai tujuhbelas. Ckrek! Terbukalah ruangannya yang memang tidak ada siapa-siapa. Walau sedikit sungkan, tetapi kurebahkan saja badanku yang capek ini. Tempatnya begitu nyaman dan pemandangannya begitu mengesankan dari balik balkon.

Pemandangan dari Balkon Apartemen
Keesokan harinya aku masih sendiri. Dengan nyawa yang sudah terkumpul setelah mandi pagi, mulailah aku berjalan. Tempat yang ingin aku kunjungi hari ini yaitu Taman Chatuchak beserta pasarnya, Grand Palace, dan Khao San Road. Grand Palace adalah istana, dimana raja tinggal. Kompleksnya sangat luas, terdiri dari beberapa bangunan yang megah dan kuil-kuil yang indah. Arsitekturnya menawan. Sebenarnya untuk memasuki kawasan tersebut diharuskan membayar bagi orang non-Thailand, tetapi karena ketidaktahuanku dan rasa percaya diri yang tinggi, aku masuk begitu saja. 
Chatuchak Market

Chatuchak Park

Grand Palace

Grand Palace

Khao San Road
Selalu saja ada momen yang tak terduga yang terjadi dalam setiap perjalanan, tepatnya hal itu aku rasakan padi hari kedua di Bangkok ini. Berawal dari kebingunganku mencari lokasi suatu taman di Bangkok di peta google, mataku dikejutkan oleh sebuah nama tempat "Indonesia Mosque". Tak perlu waktu lama, aku berubah pikiran, bergegaslah diriku ke tempat itu. Setelah melewati gang-gang sempit dan mengarungi jalanan yang banjir, sampailah aku di masjid tersebut. Masjid ini terdiri dari 3 lantai. Masjid yang kecil yang terletak di perkampungan padat, mungkin hanya dapat menampung sekitar 200an jamaah.

Seketika rasa ingin tahuku bertambah. Terbersit suatu memori, sebuah program televisi yang pernah aku saksikan di waktu lampau, tapi aku lupa. Aku keluarkan telepon pintar dan mulailah aku mencari sejarah dari Indonesia Mosque. Anehnya aku malah menemukan tempat baru bernama "Jawa Mosque". Nah, memoriku mulai terkumpul!

Aku mulai untuk melangkahkan kaki kembali. Keluar dari perkampungan, lalu menuju halte bis. Sayangnya bis tak kunjung datang. Jalanan daerah Lumphini memang sangat macet kala itu. Kuputuskan untuk berjalan kaki saja yang memakan waktu 1 jam menuju Jawa Mosque. Wah, lelah sekali rasanya. Aku sangat beruntung datang tepat pada waktu Ifthar. Dipersilakan diriku untuk duduk. Disajikanlah di atas mejaku hidangan yang tidak asing lagi: wedang jahe, gulai, rendang, dan makanan pelengkap lainnya. Benar-benar mengingatkanku akan kampung halaman. Di masjid itu sama sekali tak kutemui seseorang yang bisa berbahasa jawa. Memang kabarnya penduduk sekitar merupakan generasi ketiga dari orang-orang jawa yang merantau ke Thailand dulunya.

Aku duduk di dekat tiga orang sekawan, orang Thailand asli. Mereka menanyaiku banyak hal. Begitu antusias akan kehadiranku sepertinya. Mereka mengajakku shalat tarawih di masjid yang berbeda. Serunya waktu itu aku membonceng motor salah satu dari mereka. Menyusuri jantung kota Bangkok di malam hari yang begitu indah. Sembari menunggu tarawih, tidak lupa kami untuk minum kopi dahulu. Setelah tarawih usai, diriku langsung diantar menuju stasiun MRT terdekat untuk segera kembali ke apartemen.

Sama sekali tidak ada niat untuk mengunjungi masjid itu karena memang lupa dan minim informasi. Tetapi terkadang suatu ketidaksengajaan akan berbuah menjadi hal yang manis yang sulit untuk dilupakan.
Indonesia Mosque in Bangkok

Jawa Mosque in Bangkok
….
Di hari berkiutnya aku tak punya tujuan yang pasti. Yang jelas, host-ku mengajak pergi ke pasar malam setelah ia pulang dari kerja. Aku berpikir akan kemana pagi ini. Kuambil telepon pintarku dan kuputuskan ke Stadion Rajamanggala saja, markas tim nasional Thailand. Stadion itu terlihat sangat dekat di peta dari tempatku tinggal. Tapi, setelah dua jam berjalan melewati beberapa pasar dan ditemani sengatan matahari, barulah aku sampai di stadion itu. Aku mengurungkan niatku untuk masuk stadion, kuputuskan untuk bersantai-santai saja di kompleks halaman stadion tersebut.
Stadion Rajamanggala
Sepulang dari stadion itu aku berbaring sebentar. Ternyata host-ku sudah di rumah. Lalu ia mengajakku ke Train Night Market. Sesaat setelah keluar kamar, hujan turun lumayan deras. Alhasil kita hanya makan malam di restoran lantai bawah apartemen. Untungnya setelah kita selesai makan, hujan berangsur reda. Kita lalu bergegas ke pasar malam dekat dengan rel kereta. Aku membonceng Dan, host-ku. Kita mencicipi berbagai makanan ringan di pasar itu. 
Train Night Market
Inilah hari terakhirku di Bangkok. Aku langsung mebereskan barang-barang sesampainya di kamar. Aku harus pergi dan melanjutkan destinasiku keesokan harinya…

Share: