19/03/16

Belajar dari Kawan-kawan Vietnam

Kala itu musim panas. Aku memutuskan untuk tidak pulang kampung dan bekerja di sebuah penginapan di pulau di tengah Danau Baikal, Olkhon, bersama kawan-kawanku asal Vietnam. Para pelajar asal Vietnam selama liburan memang sengaja secara tahunan untuk bekerja di tempat tersebut.

Awalnya aku begitu kaku dan gugup. Ya, karena memang aku sendiri pelajar asal Indonesia. Hanya ada satu orang yang benar-benar kukenal saat itu. Dia berada satu angkatan denganku. Kita berdua memulai kerja di awal waktu karena memang semua ujian telah kami tuntaskan. 

Masih ingat di hari Jumat, temanku yang kukenal itu menyambutku. Dia berangkat lebih awal satu hari menuju lokasi. Lokasi berjarak 6 jam dari tempat dimana kampusku berada. Pemilik penginapan menunjukkanku tempat dimana aku akan tidur selama bekerja. Cobaanku dimulai kala itu. Kamarnya benar-benar seperti gudang. Semua tidak tertata dengan dipan seadanya dilapisi kasur nan keras dan bantal yang berdebu. Tidak ada langit-langit dengan dinding kayu tipis sehingga bila siang hari matahari begitu menyengat dan malam hari angin malam begitu mencengkeram. Di hari pertama dan kedua aku tidur dengan menggigil. Selain itu, toilet terletak di seberang kamar. Memang sih toiletnya bersekat, akan tetapi kotoran kita langsung jatuh ke bumi. Lantai toilet sengaja khusus dilubangi agak dalam untuk memasukkan kotoran. Apalagi di toilet tersebut tak ada air sama sekali. Ingat sekali aku waktu itu temanku berkata dengan entengnya, "inilah alam". Aku baru benar-benar bisa membuang 'kotoran' setelah seminggu berjalan.

Hari demi hari berlalu. Anak-anak Vietnam yang lain mulai berdatangan. Kini kamarku ditempati oleh 5 orang. Kasur kami berjajar dan saling berhimpit. Akhirnya aku sudah tidak menggigil lagi saat tidur.

Ada sekitar belasan anak-anak Vietnam, aku lupa tepatnya. Mereka begitu hangat dan menjadikanku teman baik dalam waktu sekejap. Di luar beratnya pekerjaan kita selalu punya hal menarik untuk menjadi hiburan seperti bermain pingpong, sepak bola, berenang, bebakaran, dan lain sebagainya.  Dengan raut wajah polos kawan-kawan baruku sering berkata, "di pagi hari kita menjadi pekerja, namun sorenya kita adalah turis hahaha." Yeah, pekerja dan turis dalam satu waktu!

Penginapan itu hanya terpaut beberapa langkah dari spot fenomenal, Burkhan Cape. Kita selalu menyempatkan sore hari untuk menyaksikan matahari terbenam dari pinggir danau. Dan sesekali berenang lalu mandi bersama di kamar mandi. Mandi bersama? Aku baru terbiasa hal ini setelah 3 minggu berjalan. Awalnya aku merasa risih dan selalu mandi sendiri. Tapi aku merasa tidak enak karena dikiranya sok eksklusif. Jadi ya akhirnya mau saja deh mandi bersama. Mereka memang tidak 'kikuk' untuk hal semacam itu. Temanku bercerita bahwa mereka pernah merasakan mandi bersama 50 orang sekaligus. Setiap dari mereka diwajibkan militer selepas sekolah menengah atas.

----

Pada hari Minggu di Pulau Olkhon akan diadakan pertandingan futsal pantai. Penduduk dan beberapa pekerja antusias berikutserta, termasuk teman-temanku asal Vietnam. Tentu saja aku berpihak pada mereka dengan berlandaskan sesama Orang Asia.

Matahari begitu terik. Ditambah pasir pantai yang mengkilat yang membuat sengatan matahari memantul lagi. Semua tim telah berkumpul. Turnamen diikuti sekitar 4 grup masing-masing terdiri dari 4 tim. Jadi setiap tim minimal bermain sebanyak tiga kali. Kala itu suasana sangat ramai. Para turis pun ikut menyaksikan turnamen tersebut. Riuh sorak sorai menyerukan tim mana yang mereka dukung. Gemercik air danau menambah meriahnya hari itu.

Tiba saatnya tim Vietnam bermain. Pertandingan pertama tim ini dibantai. Pertandingan kedua tim ini cukup mengimbangi lawan, namun tetap saja akhirnya kalah. Tubuh orang-orang Rusia besar dan sangat kekar. Stamina mereka kuda. Juga gertakan-gertakan mereka menggelegar. Akhirnya pertandingan terakhir tim Vietnam dimulai. Aku dipaksa untuk bermain. Sangat berat aku rasakan kala itu bermain di gumuk pasir yang membuat kaki kita terperosok. Staminaku habis, tenagaku terkuras. Posisiku kala itu menjadi bek. Aku bertanggung jawab menjaga pertahanan dengan membuang bola-bola berbahaya ke depan. Walau terasa lelah dan berat aku tak mau mempermalukan tim ini. Babak pertama selesai dan skornya masih kaca mata. Babak kedua aku tidak bermain. Lalu tim ini kebobolan satu gol pada awal babak. Mereka, teman-temanku tetap bermain penuh percaya diri. Tidak ada kata menyerah dalam diri mereka. Kulihat raut wajah dan sorot mata yang benar-benar serius. Aku yakin, mereka berpikir 'kita harus menang'. Babak kedua hampir usai. Tetapi tim ini masih tertinggal satu gol. Momen itu tiba. Temanku berhasil mencetak gol dengan tendangan salto. Prit! Pertandingan usai. Kami tidak menang tapi kami juga tidak kalah! Kerja keras ini membuahkan hasil!

----

Di luar itu semua aku sudah mengetahun bahwa teman-temanku Vietnam itu pekerja keras. Mereka memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Saat di universitas pun mereka selalu menunjukkan taringnya dengan menjuarai berbagai olimpiade yang diadakan.

Berawal dari kisah itu aku menancapkan kencang-kencang dalam sugestiku, aku tidak akan kalah dari mereka. Aku akan berusaha sekuat-kuatnya untuk melakukan yang terbaik demi keluarga dan harga diri bangsaku. Diawali dari secarik kertas, mimpi-mimpiku akan segera terwujud.





Share:

Your Seat Number

I Was Here

Novardin’s Travel Map

Novardin has been to: France, Greece, Indonesia, Italy, Malaysia, Netherlands, Russia, Singapore, Spain, Switzerland, Thailand.
Get your own travel map from Matador Network.

Contact

Nama

Email *

Pesan *