04/09/15

, ,

Petualangan di Belantara Siberia

Hampir saja aku membatalkan rencanaku untuk berpetualang menjelajah Siberia, salah satunya menapakkan kaki di Pegunungan Altai. Aku pikir itu akan sangat sulit karena aku hanya seorang diri. Tetapi seseorang terus meyakinkanku, hingga ia berkata, “Sudahlah, kamu tinggal siapkan sleeping bag saja, tenda dan baju-baju hangat nanti aku pinjami. Biasanya akan ada beberapa orang menginap di apartemenku, nanti kamu bisa pergi bersama mereka.”



Seseorang itu bernama Alexander, programmer merangkap couchsurfer, memberiku tumpangan di Barnaul. Ia anak tunggal dan tinggal bersama kedua orang tuanya di apartemen. Menarik, saat ia berkata ada orang Indonesia yang juga pernah menumpang. Apartemennya semacam basecamp. Berlalu-lalang orang datang-pergi dan kebanyakan menjadikan Altai sebagai destinasi utama. Ya, Barnaul merupakan titik yang tepat untuk mencapai pegunungan itu.


Setelah hampir dua hari di kereta dari Irkutsk, sampailah aku di Barnaul. Pada tengah malam aku mencapai Barnaul. Aleksander menjemputku di stasiun kereta dengan taksi. Sayangnya, belum ada seorangpun yang menghubunginya. Hingga dua hari berlalu masih sama, nol. Apa boleh buat, hari itu aku kurang beruntung, aku memutuskan bepergian sendiri. Malam harinya aku dan Aleksander menyusun rencana menuju Altai.

Berbekal situs blablacar, pagi-pagi sekali aku berangkat dari Barnaul menuju Gorno-Altaysk lalu dilanjutkan ke Desa Kuray. Perjalanan memakan waktu hampir setengah hari. Desa Kuray merupakan pintu gerbang menuju Gunung Aktru, salah satu titik yang direkomendasikan jika berkunjung ke Altai, terlebih kita tidak perlu membuat suatu perijinan apapun. Di desa itu kemungkinan akan ada banyak turis yang akan menuju ke pos pendakian terakhir. Tetapi lagi-lagi aku kurang beruntung, sama sekali tidak kutemui seorangpun untuk bisa berangkat bersama. Untuk mencapai Aktru kita harus naik mobil jip. Namun, kita harus membayar biaya per mobil bukan per orang sehingga akan sangat mahal bila aku berangkat seorang diri.

Senja sudah datang, tanda malam akan segera tiba. Aku memutuskan untuk menginap sembari menunggu turis lain di salah satu penginapan di paling ujung Desa Kuray. Aku bertemu keluarga kecil dari Kemerovo yang sedang berlibur. Mereka mengundangku makan malam. Kami pun berbincang dengan hangat. Aku juga berkeluh kesah akan kesendirianku.



Hari berganti. Kalaupun tidak ada lagi turis yang ingin ke Aktru, aku sudah berniat untuk berangkat dengan membayar mobil jip seorang diri. Tetapi keberuntunganku agaknya tiba pada hari itu. Rombongan dari Ukraina datang. Mereka terdiri dari belasan orang yang juga akan ke Aktru. Praktis, aku meminta diri untuk bergabung dan mereka menyetujui. Kamipun tidak berangkat dengan mobil jip akan tetapi dengan truk besar. Goncangan demi goncangan kami lalui. Jalan menuju Aktru begitu terjal dan ekstrim. Dua jam berlalu. Kami pun tiba di pos akhir Aktru. Seketika itu juga kami langsung mendirikan tenda.

Keesokan harinya aku mencari rombongan lain untuk bersama menuju Danau Biru Muda. Aku dan rombongan Ukraina memiliki rencana yang berbeda. Mereka akan tinggal lebih lama. Oleh karena itu mereka akan menjelajah ke banyak tempat. Sedangkan aku hanya akan pergi ke tempat yang paling direkomendasikan oleh temanku di Barnaul. Aku dan rombongan baruku berjumlah 7 orang, dua di antaranya merupakan pasangan dari Novosibirsk yang baru saja melangsungkan pernikahan tiga hari yang lalu.  Sepanjang perjalanan kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa. Walau musim panas, salju tetap ada di gunung itu.


Satu hal yang berkesan saat aku di Aktru adalah pertama kalinya diriku merasakan banya atau semacam sauna khas Rusia. Rombongan Ukraina mengajakku untuk ke banya bersama. Di dalam banya aku dipijat atau lebih tepatnya ‘dicambuk’ dengan dedaunan Beruza oleh seseorang yang aku lupa namanya. Nikmat sekali. Sesekali aku keluar karena kepanasan. Lalu aku masuk lagi. Begitu terus sampai tiga kali. Hampir semua orang di Aktru mengenalku karena aku sendiri sebagai orang asing. Satu kali aku diwawancara oleh jurnalis dari Novosibirsk. Dua kali aku diundang untuk minum teh di rombongan yang berbeda. Dan banyak kali aku bercakap-cakap dengan setiap orang yang aku temui.

Dua malam di tenda aku kedinginan dan sulit untuk tidur. Tetapi bagaimana lagi. Walaupun ada penginapan, aku tidak ingin tidur di sana. Aku ingin memaksimalkan perjalanan mandiriku ini agar lebih berkesan. Empat hari berlalu. Aku rasa cukup sudah bagiku. Saatnya kembali dan melanjutkan perjalanan ke kota lain. Pertama, aku kembali ke Desa Kuray. Aku sama sekali tidak tahu kapan bis akan menjemput, bahkan orang asli Kuray pun tidak tahu. Di desa itu tidak ada terminal dan jalanan lintas negara sangat sepi dari hiruk pikuk kendaraan bermesin. Aku melakukan hitchhiking sampai Gorno-Altaysk, lalu dari sana kulanjutkan dengan bis menuju Barnaul. Setelah sampai, aku segera beristirahat di rumah Aleksander. Keesokan harinya aku memiliki janji. Lagi-lagi aku akan diwawancarai. Namun kali ini kami sudah bersepakat jauh-jauh hari.

Barnaul memberiku kesan tersendiri. Banyak orang baru yang aku kenal dan tak akan pernah kulupakan. Walau pada dasarnya kota-kota di Rusia itu menyuguhkan sesuatu yang sama, seperti patung-patung memorial, sungai, jembatan, gereja-gereja, gedung pemerintahan, musium, taman, dan masih banyak lagi dengan arsitektur klasik khas Rusia, namun Kota Barnaul sangat sayang untuk dilewatkan.

Perjalanan aku lanjutkan dengan mobil blablacar menuju Novosibirsk. Di sini aku tidak mengenal siapapun dan tidak menemukan tumpangan dari couchsurfing, Aku menginap di hostel murah. Kuputuskan untuk tinggal satu malam saja dan dalam waktu dua hari itu aku habiskan untuk menelusuri jalan utama di Kota Novosibirsk, Krasniy Prospek. Kota ini terbilang modern. Di kota terbesar ketiga di Rusia ini memiliki banyak gedung pencakar langit. Letak kota ini juga sangat strategis, yaitu di tengah-tengah Rusia. Oleh karena itu ada beberapa konsulat negara lain di sini. Kelebihan lainnya, kota ini sudah memiliki sistem metro, yaitu transportasi publik yang menghubungkan beberapa titik melalui jalur bawah tanah.


Dua hari berlalu. Masih dengan mobil blablacar, aku menuju Kota Tomsk. Waktu perjalanan sama seperti Barnaul-Novosibirsk, yaitu sekitar 4 jam. Aku terpaksa menginap di hostel lagi. Seseorang yang kukenal di Baikal yang semestinya aku mintai tumpangan itu mendadak pergi ke luar kota. Di kota ini masih ada beberapa mahasiswa Indonesia yang tidak pulang kampung. Mereka mengajakku mengelilingi Kota Tomsk. Kota ini sangat tenang. Banyak taman dengan suasana yang nyaman untuk belajar.


Aku memutuskan 3 hari saja di Kota Tomsk. Satu hal yang membuatku gusar jika tinggal di penginapan adalah perijinan yang menyita banyak waktu. Memang itu perlu karena aku sebagai orang asing yang mungkin dianggap berbahaya. Akan tetapi pengecekan paspor dan visa berkali-kali oleh petugas hostel membuatku tak nyaman. Perijinanku menginap baru kudapat sesaat sebelum aku meninggalkan Kota Tomsk.

Tujuan terakhirku adalah Krasnoyarsk. Aku memilih menggunakan kereta karena tak mendapatkan mobil blablacar. Perjalanan di kereta ku lalui selama 14 jam. Sesampainya di Stasiun Krasnoyarsk, Dima sudah menungguku di luar gerbong. Nikita juga sudah tiba di luar stasiun. Kami pun meninggalkan stasiun menuju apartemen Nikita. Aku mengenal mereka melalui teman Indonesiaku yang berkuliah di Krasnoyark dan juga dari temanku yang aku kenal baik saat kami bertemu di forum Baikal. Malamnya kami pergi ke café dan bermain Diksit, yaitu permainan kartu bergambar dan kita harus menebak kartu yang bernar dari suatu frasa yang kita sebutkan. Dua kali bermain, dua kali menjadi jawara.

Keesokan harinya, aku, Dima, dan teman-temannya bersiap menuju bukit Torgoshin. Dari atas sana kita bisa melihat Kota Krasnoyarsk. Lalu hari kedua, aku dan Dima berangkat menuju Stolby. Stolby ini cukup terkenal, beberapa turis asing menyempatkan berkunjung ke Krasnoyarsk untuk pergi ke Stolby. Stolby merupakan bukit yang di atasnya terdapat banyak tebing. Perjalanan dari bawah sangat jauh dan melelahkan. Dima mengajakku untuk memanjat tebing pertama setinggi 80 meter dan kuiyakan. Pengalaman yang tak telupakan, aku bisa mengalahkan ketakutanku. Namun tak disangka, aku kehilangan sepatuku. Momen ganjil ini terjadi saat aku menaruhnya di bawah tebing karena sepatuku terbilang licin. Saat kembali aku tidak menemukannya. Entah, seseorang telah mengambilnya. Aku turun dengan nyeker alias tanpa alas kaki. Dari penjual jus lemon, aku mendapat pinjaman sandal, sandal wanita. Tak masalah, lebih baik kehilangan sepatu daripada paspor, pikirku bijak. Sangat lelah hari ini. Malamnya aku memenuhi undangan teman Dima, Vadim, untuk makan pancake bersama teman-teman.




Hari berganti, agenda terakhirku ialah berjalan-jalan keliling kota. Seperti yang sudah aku tuliskan, pada dasarnya setiap  kota di Rusia memiliki arsitektur dan tempat-tempat umum yang serupa. Namun, Krasnoyarsk tersnyata memiliki nuansa tersendiri. Kota Krasnoyarsk dekat dengan alam. Kota ini dikelilingi bukit dan memiliki danau di tengah sungai. Hal menarik, di danau itu warga bisa bersitirahat dan berolahraga dengan gratis. Terdapat lintasan beraspal sejauh beberapa kilometer tanpa ada kendaraan bermesin yang melintas. Lintasan dikhususkan untuk berlari, bersepatu roda, bersepeda, dan berjalan. Tersedia pula tempat fitness gratis di beberapa sudut.

Di Krasnoyarsk aku tidak menginap di hostel. Hampir 5 hari di kota ini, aku menumpang dan berpindah-pindah tuan rumah sebanyak 3 kali. Pertama di tempat Nikita. Hanya semalam di sana dan terpaksa pindah karena ibunya akan datang. Lalu ke tempat Maks, couchsurfer yang pernah ke Indonesia. Aku menumpang 2 malam dan harus berpindah lagi karena masih memiliki agenda untuk berkeliling kota. Terakhir aku tidur semalam di tempat Vadim. Keesokan harinya aku berniat kembali ke Irkutsk dengan mobil blablacar. Janji sudah dibuat, akan tetapi si sopir tidak menepatinya. Ia tak kunjung datang di tempat dan waktu yang telah dijanjikan. Setelah kutelepon, ia sudah meninggalkan Krasnoyarsk beberapa jam sebelumnya. Sangat disayangkan. Terpaksa aku ke stasiun dan membeli tiket kereta yang tentunya lebih mahal untuk berangkat malam itu juga. Naik kereta akan memakan waktu lebih lama dibanding naik mobil. Kecepatan kereta tidak terlalu kencang dan sering berhenti di stasiun-stasiun. Tetapi yang jelas yang lebih mahal tentu lebih nyaman. Di kereta kita bisa tidur kapanpun. Selain itu waktu keberangkatan dan kedatangan selalu tepat.

18 jam berlalu, aku sampai di Kota Irkutsk. Perjalanan 17 hari yang melelahkan, akhirnya kutuntaskan juga. Bersyukur aku selamat hingga akhir perjalanan tanpa ada masalah apapun. Banyak suka maupun duka. Yang jelas, aku selalu tersenyum puas dengan pengalamanku di libur musim panas ini. Aku berhasil berpetualang sepanjang 6000 kilometer di 6 kota berbeda seorang diri dengan biaya sekecil-kecilnya.

Perjalanan sendiri memang sangat sulit dan membutuhkan mental yang baja. Di balik kesulitan-kesulitan itu banyak manfaat yang bisa kita dapatkan. Kita menjadi lebih berani dalam hal apapun. Beberapa kali aku keluar malam dan sering berjalan sendirian dengan barang-barang berharga di ransel. Namun, semakin kita bisa menguasai diri, semakin orang lain akan berpikir dua kali untuk berurusan dengan kita. Perjalanan sendiri memang menantang, apalagi di negara asing yang orang-orangnya tidak berbicara bahasa ibu kita. Gadget tak selamanya membantu. Sikap ‘sok kenal’ justru dibutuhkan dan beberapa kali aku melakukannya dengan tentu saja terlebih dulu menghilangkan rasa gengsiku. Karena ‘sok kenal’ itulah kita jadi memiliki banyak teman. Karena banyak teman, kemampuan komunikasi kita juga terasah, bahasa asing kita semakin baik.

Saat aku di gunung sering aku ditanyai, “Apa tidak takut berjalan sendirian? Mengapa?”. Memang, sebagai orang asing dan berjalan seorang diri memang tak mudah apalagi di negeri orang. Tetapi, jika kita bisa berbahasa asing dan memiliki banyak kenalan, mengapa harus takut?

Dari perjalananku ini aku mempelajari banyak hal. Pertama, jangan sedikit-sedikit merasa jijik. Toilet di Rusia dan mungkin juga di beberapa negara lain merupakan toilet kering sehingga tidak tersedia air sama sekali. Bahkan toilet di desa-desa lantainya terbuat dari kayu dan dilubangi sehingga kotoran kita akan jatuh langsung ke bumi. Beruntung aku sudah terbiasa dengan toilet seperti itu karena tinggal satu bulan di Baikal. Kalau sudah begitu mau bagaimana lagi? Mau tidak mau harus dikeluarkan daripada kita sakit. Yang kedua, bisa tidur dimana saja, seperti di kereta, tenda, dan lain-lain tergantung kondisi yang ada. Yang ketiga, bisa menahan lapar. Biasakan makan besar sekali saja, sisanya minum air putih dan makan makanan ringan. Karena waktu yang dekat antara maghrib dan imsak di Irkutsk saat puasa Ramadhan, aku terbiasa hanya makan satu kali sehari. Dengan demikian kita bisa memaksimalkan waktu perjalanan dan meminimalkan biaya pengeluaran. Tetapi ini tergantung kondisi masing-masing diri kita. Kelima, jangan panik. Biasakan menghadapi segala sesuatu dengan tenang. Ini akan membantu kita untuk berpikir jernih bagaimana menuntaskan masalah yang terjadi dengan solusi yang terbaik. Terakhir, jaga kondisi. Apa gunanya kita sudah di tempat tujuan, tetapi tiba-tiba sakit di tengah jalan hingga tak bisa melanjutkan perjalanan.  Ketahui kondisi. Penting untuk melakukan persiapan fisik sebelum memulai perjalanan. Biasakan berpikir positif. Karena pikiran juga akan mempengaruhi kondisi tubuh kita.


Salam traveler! J
Share: