28/12/14

Tunggu Aku, Autumn

Pukul tiga dini hari si burung besi bercorak hijau dan merah tepat mendarat di airport di salah satu kota di Siberia, Rusia. Ialah S7 atau Siberian Airlines yang telah mengantarkanku menginjakkan kaki di kota ini. Ransel dan tas jinjing telah aku keluarkan dari dalam kabin. Perlahan penumpang merayap keluar menuju terminal kedatangan. Udara dingin yang sangat menusuk menyambutku di pangkal anak tangga pesawat. Angin malam membelai kulit tropisku ini. Sesaat sebelum turun aku sempat melihat ponsel penumpang lain yang menunjukkan bahwa suhu di luar minus dua derajat! Beruntung jaket tebal, sepatu gunung, sarung tangan, dan topi kupluk telah sempurna aku kenakan.

Sebelumnya perkenalkan, namaku Novardin Rizkidwikusuma. Aku tidak sendiri, Clarinta Mourenza dan Budi Prasetiya menemaniku. Kami mengambil jurusan yang sama oil and gas engineering dan di kampus yang sama pula Irkutsk State Technical University. Studi akan kami tempuh dalam waktu lima tahun, itu sudah termasuk dengan fakultas persiapan. Kami bersama-sama mengawali perjalanan ini dan akan tetap bersama menyibak rimba demi asa kita beberapa tahun ke depan.
P_20141009_155154_NT
P_20141009_153827_NTP_20141009_160003
Aku kini berada di Irkutsk, salah satu kota terbesar di Siberia. Siberia merupakan dataran terdingin di Rusia atau bahkan di dunia. Akan tetapi, Irkutsk dekat dengan Danau Baikal –danau terdalam di dunia—sehingga suhu di sini tidak seekstrim seperti kota-kota lainnya. Wilayah Irkutsk cukup luas yaitu sekitar 304 km2 namun tercatat pada tahun 2010 hanya terdapat penduduk sejumlah 587.891 jiwa. Banyak destinasi wisata yang dapat anda kunjungi di kota yang berlambang harimau ini, seperti: Sungai Angara, Katedral Epiphany, Danau Baikal, Istana Pangeran Sergey Volvonsky, Taman Khirova, dan masih banyak lagi. Dapat dikatakan bahwa Irkutsk adalah ‘Jogja’nya Rusia. Selain bertebarannya perguruan-perguruan tinggi di setiap penjuru kota, juga banyak mahasiswa asing yang menjadikan Irkutsk sebagai pilihannya untuk melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya. Ditambah, kota ini ditinggali oleh beragam etnis dan suku sehingga terbentuklah suatu masyarakat yang multikultural.

Seketika selalu tebersit dalam kepalaku satu kata kesan pertama akan kota ini: dingin. Cuaca dingin tak jarang menjadi suatu kendala bagi orang-orang yang hanya terbiasa menghadapi dua musim: kemarau dan hujan, termasuk diriku.  Iklim panas di Indonesia dan iklim dingin di Rusia. Perbedaan ini memberiku beragam arti antara konotasi dan denotasi. Dinginnya Rusia sedikit menenangkan isi kepalaku yang sedang panas mengamati kancah perpolitikan di Indonesia. Aku tak yakin sepenuhnya bila Indonesia terbelah menjadi dua kubu. Namun aku yakin bahwa semuanya akan sama-sama berjuang demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Aku berharap masing-masing kubu dapat bersatu padu bagaikan es yang sedang membeku. Semoga ke depan Indonesia memiliki pemerintahan yang solid, doaku dalam hati. Semoga.

Kemarin di Irkutsk terang namun sekarang gelap. Bisa jadi keesokan harinya akan turun salju lalu esoknya cerah lagi. Saat ini yang notabene adalah musim gugur sesekali terselip salju di hari-hari tertentu. Well, cuaca di sini memang aneh.

Awalnya aku hanya tahu bila di belahan bumi lain terjadi empat musim. Aku terus berangan-angan untuk merasakannya. Berawal dari hadis, “Tuntutlah ilmu walau sampai negeri China.” dan sekarang aku telah melampaui China. Aku telah tiba di Irkutsk, Rusia! Aku tak hanya merasakan apa itu empat musim. Aku kini mulai berkenalan dengannya. Di musim gugurlah awal perkenalan itu. Musim gugurlah yang memberiku banyak cerita. Musim yang menyambutku setibaku di Negeri Beruang Merah.

Pohon-pohon tetap tegar berdiri walau dedaunan telah lepas meranggas. Daun-daun kering bertebaran di ruas-ruas jalan. Salju terkadang turun dengan angkuhnya. Membasahi bumi dengan butiran-butiran esnya hingga memutih. Burung-burung bersembunyi di balik atap, tupai-tupai mengintip lesu dari balik pepohonan.  Mereka berharap musim gugur akan lebih lama lagi. Mereka tak ingin salju turun lebih cepat. Di tengah udara dingin musim gugur ini aku bermimpi. Aku berteriak dari dalam hati bagai gelegar yang tak terdengar. Aku berikrar, “Tunggu aku, musim gugur kelimaku!”

                                                                                                                                                Irkutsk, Oktober 2014
Tulisan saya ini juga telah dimuat di web PPI Rusia (PERMIRA): Tunggu Aku, Autumn
Share:

Your Seat Number

I Was Here

Novardin’s Travel Map

Novardin has been to: France, Greece, Indonesia, Italy, Malaysia, Netherlands, Russia, Singapore, Spain, Switzerland, Thailand.
Get your own travel map from Matador Network.

Contact

Nama

Email *

Pesan *