10/07/13

Part 1 - Ceritaku Backpacking ke Lombok

Senin, 1 Juli 2013

Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun untuk menjalankan sahur, lalu mandi, dan bersiap-siap menuju suatu tempat. Liburan kali ini berbeda dari biasanya. Aku dan kedua temanku berencana akan berdestinasi ke Lombok. Bermodal uang secukupnya, tas ransel yang berisi peralatan yang dibutuhkan, tiket kereta yang sudah terbeli, ditambah semangat yang menggebu, kami siap menempuh perjalanan darat ke Lombok. 


Tepat pukul 07.30, Aku, Efan, dan Ony sudah berkumpul di Stasiun Lempuyangan. Bergegas kami menuju gerbong satu KA Sri Tanjung setelah melalui pengecekan tiket dan KTP yang dilakukan oleh petugas stasiun. Jauh hari kami sudah mereservasi tiket pulang dan pergi untuk menghindari habisnya tiket karena bertepatan dengan liburan sekolah yang sudah pasti akan ludes terjual. KA Sri Tanjung merupakan KA ekonomi ber-AC termurah yang baru saja menaikkan harganya (Rp90.000) dan satu-satunya akses kereta dari Jogja langsung menuju Banyuwangi. 07.45 kereta melaju. Menempuh jalur Jogja-Banyuwangi serasa hidup di dalam kereta. Sungguh, lama sekali. Setiap ada kereta eksekutif akan melintas, kereta harus berhenti. Mengalah. Juga, setiap ada stasiun besar maupun kecil kereta berhenti. Inilah yang semakin memperlama perjalanan kami menuju Banyuwangi. Sembari menunggu sampai di tempat tujuan banyak hal yang dapat dilakukan. Bisa tidur, mengobrol dengan penumpang lain, jalan-jalan ke gerbong lain, makan, dan lain-lain yang dapat menghindari kebosanan selama di kereta. Kami membawa bekal makan dari rumah untuk berhemat. Tertera pada tiket bahwa kereta akan sampai pukul 20.40. Namun ternyata meleset 50 menit. 21.30 kami baru sampai di Stasiun Banyuwangi Baru.


Sesampainya di stasiun, kami langsung berjalan keluar untuk mencari sebuah penginapan yang murah. Kami menemukan penginapan itu setelah berjalan lurus dari stasiun sekitar 200 meter. Penginapan itu terletak di depan pos polisi. Kami menginap semalam di kamar itu (Rp50.000/3 orang) dengan kamar mandi luar. Berharap esoknya badan kami segar karena perjalanan masih panjang.

(Pengeluaran hari ke-1 : Rp107.000)

Selasa, 2 Juli 2013


            05.00. Kami bertiga bangun tidur. Setelah sholat, mandi, dan berkemas kami bergegas menuju Pelabuhan Ketapang yang jaraknya sangat dekat dari penginapan. Kami sarapan di dekat pelabuhan dengan nasi campur dan air putih (Rp6.000). Kemudian masuk pelabuhan menuju loket untuk membeli tiket penyeberangan (Rp6.500) Ketapang-Gilimanuk. Kapal ferry menyeberangkan penumpang setiap 1 jam sekali dengan waktu tempuh 1 jam. 09.00 WITA sampailah kami di Pelabuhan Gilimanuk. Hanya perlu keluar pelabuhan kami sudah berada di terminal untuk mencari angkutan umum murah menuju Ubung (Rp30.000). Waktu tempuh Gilimanuk-Ubung cukup lama sekitar 4 jam. Pukul 13.00 sampailah kami di Ubung, Denpasar. Kami harus mencari bis lagi untuk menuju Padangbai. Sebenarnya ada angkutan umum yang langsung mengantarkan dari Gilimanuk menuju Padangbai. Akan tetapi hanya ada 2 kali sehari yaitu pagi pukul 4.00 dan sore pukul 16.00. 14.00 angkutan umum berjalan. 




Panas terik matahari, asap pekat kendaraan, dan sesaknya penumpang tak menjadi pantangan. Keindahan alam sepanjang jalan di Bali menghapuskan itu semua. Tarif angkutan umum Ubung-Padangbai ialah Rp40.000 tapi kami berhasil menawarnya walaupun tak terlalu banyak (Rp110.000/3 orang). 17.00, sampailah kami di Pelabuhan Padangbai. Sejenak kami beristirahat dan makan nasi campur (Rp10.000). Setelah makan, kami membeli tiket penyeberangan ke Lombok (Rp40.000). Akhirnya, satu langkah lagi! Banyak calo yang menawarkan tiket kepada kami, namun kami tak mudah percaya. Kami lebih memilih membeli tiket di loket resmi karena uang tak masuk ke kantong pribadi. 18.00 kapal ferry sudah menarik jangkarnya. Ombak di Selat Lombok lebih ganas dibanding Selat Bali. Angin laut malam juga sangat kencang. Apalagi kami harus menghabiskan waktu 4 jam di kapal. Untuk menghindari mabuk laut, kamipun tidur di bangku. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00. Kapal sudah mendarat di Pelabuhan Lembar, Lombok. Akhirnya setelah perjalanan panjang puluhan jam, sampai juga kami bertiga di tempat tujuan.


            Kami akan dijemput oleh host kami yang Efan cari sebelumnya melalui komunitas di situs Couchsurfing. Ini mempermudah kami dalam bepergian keliling Lombok. Dengan mobil Avanza Silver yang kami sewa (Rp500.000/3 orang) sudah termasuk bensin 24 jam, kami langsung melaju menuju tempat nongkrong di Lombok, yaitu Lesehan Udayana. Berjajar warung-warung yang menjajakan aneka macam makanan semacam foodcourt namun dibuat lesehan dengan suasana malam jalanan Lombok dan diramaikan sepeda-sepeda berhias lampu seperti di Alun-alun Yogyakarta. Di sini aku membeli sate bulayak atau sate daging (Rp13.000)  ditemani jeruk hangat (Rp7.000) yang begitu mahal buat kantongku. Setelah perut terisi, kami dan host kami berkeliling Kota Mataram sebentar dan berfoto di salah satu taman kotanya lalu pulang ke rumah host. Pukul 23.30 kami telah sampai di rumah host yang berada di Lombok Tengah. Sangat lelah rasanya raga ini. Kupejamkan pelan-pelan mataku. Pukul 00.00 kami bertiga tidur dengan pulas.

 (Pengeluaran hari ke-2 : Rp315.000)


Bersambung.....
Share:

Your Seat Number

I Was Here

Novardin’s Travel Map

Novardin has been to: France, Greece, Indonesia, Italy, Malaysia, Netherlands, Russia, Singapore, Spain, Switzerland, Thailand.
Get your own travel map from Matador Network.

Contact

Nama

Email *

Pesan *