10/07/13

,

Part 4 - Ceritaku Backpacking ke Lombok

Jumat, 5 Juli 2013


            Bangun pagi hari. Stretching dari kepala sampai kaki. Aku menyadari. Inilah hari terakhir aku di Lombok dan Gili. Sebelum beranjak pergi. Aku menikmati sunrise yang indah sekali. Lalu kami jalan-jalan keliling Gili. Sengaja kami tak pinjam sepeda sebagai transportasi. Kami memilih untuk jalan kaki. Sembari menikmati udara pagi. Tak ada polusi. Semua masih terasa alami. Seusai jalan-jalan, kami sarapan nasi campur (Rp10.000) di Warung Barokah dekat masjid. Kemudian kami kembali ke penginapan untuk mandi dan berkemas-kemas pulang. Kamipun check out pukul 10.00.


            Kami memulai langkah dengan basmallah menuju pantai untuk menyeberang kembali ke Pelabuhan Bangsal. Kami membeli tiket seharga (Rp5.000). Ini langkah pertama perjalanan pulang. Masih sangat lama untuk sampai di Jogja. Kami siap mengembara. Pukul 11.00 kami sudah tiba di Pelabuhan Bangsal. Langsung berganti naik taksi biru untuk meluncur ke Pelabuhan Lembar. Kami tiba di Pelabuhan Lembar pukul 12.30 (Rp175.000/3 orang). Kami makan soto dahulu (Rp12.000) lalu sholat dan istirahat sejenak. Pukul 14.00 kapal ferry tiba, Dharma Kencana namanya. Tak disangka, walaupun kelas ekonomi, kapal ini memiliki fasilitas yang begitu istimewa. Kami memilih untuk tidur di ruang yang telah disediakan. Nyaman rasanya menghabiskan waktu 4 jam di kapal ini. Ada seorang bule tepat berada di sebelahku, ingin kusapa tapi aku malu. Ingin mengasah kemampuan berbahasa inggrisku, namun aku ragu. Ya sudahlah, kuurungkan niatku. Tiket dari Lembar-Padangbai (Rp40.000). Pukul 18.00 kapal mendarat di Pelabuhan Padangbai, Bali. Lalu kami naik angkot yang sangat mahal semahal taksi. Kami tak ada pilihan lain karena memang jarang akses transportasi dari Padangbai ke Ubung. Kami menuju Ubung dengan tariff (Rp50.000).

Sesampainya di Ubung, Efan menelepon PT KAI untuk bertanya apakah tersedia tiket kereta Banyuwangi-Jogja esok pagi hari Minggu. Sebenarnya kami punya tiket pulang hari Minggu yang kami beli bersamaan dengan tiket datang.  Tetapi program liburan sudah habis dan waktu masih tersisa serta keuangan semakin menipis. Kami bingung. Mau menggembel seharian menunggu tiket kereta ataukah pulang dengan bis yang jatuhnya lebih mahal dengan membatalkan tiket kereta. Kami memutuskan ke Banyuwangi terlebih dahulu dan bertanya langsung ke stasiunnya. Dengan (Rp30.000) kami menumpang bis dari Ubung menuju Gilimanuk.

(Pengeluaran hari ke-5 : Rp205.000)

Sabtu, 6 Juli 2013

01.00 kami sampai di Pelabuhan Gilimanuk dan menyeberang (Rp6.500) sehingga pukul 02.00 kami sudah sampai di Pelabuhan Ketapang. Kami langsung menuju masjid dan tidur di serambi sambil menunggu azan subuh berkumandang. Mendengar azan telah berkumandang, kamipun terbangun. Kami berwudhu untuk melaksanakan sholat Subuh. Sehabis sholat kami langsung menuju Stasiun Banyuwangi Baru untuk menanyakan kepastian tiket. Alhasil, tiket kereta Sri Tanjung hari ini memang telah tiada. Berdasarkan informasi dari sopir angkot di luar stasiun, bahwa ada bis jurusan Banyuwangi-Probolinggo-Surabaya lalu ganti bis menuju Jogja yang bila dihitung lebih mahal dibanding tiket Sri Tanjung Banyuwangi-Jogja.

Tak ingin berlama-lama berpikir, kami memutuskan untuk pulang hari ini juga. Kami menumpang angkot dari stasiun (Rp5.000) menuju Terminal Banyuwangi. Kami menaiki bis ekonomi Indonesia Abadi tujuan Surabaya (Rp48.000) dan langsung berangkat pukul 07.00. Setelah berjalan sekitar 3 jam, bis ini mogok di dekat Pantai Bentar, Probolinggo. Penumpang semua berhambur keluar ada yang membantu mendorong bis menuju pinggir jalan termasuk kami. Kami menanti ketidakpastian. Bis tak beranjak jalan dan tak ada bis lain jurusan Surabaya yang datang. Sempat bertanya dengan kondektur, uang yang sudah diberi tak dikembalikan, sayang sekali kami merugi. Dengan berat hati karena telah lama menunggu sekitar 1 jam dan bis dukungan tak kunjung datang, kami memutuskan menaiki angkot menuju Terminal Probolinggo (Rp5.000). Dari Probolinggo kami harus merogoh kocek lagi (Rp16.000) untuk menuju Surabaya. Kerugian kami menjadi Rp46.000 (karena bis mogok yang harusnya langsung sampai Surabaya dan pembatalan kereta yang dikembalikan sejumlah Rp65.000 dengan harga pembelian Rp90.000). Tak apalah, semoga ini musibah terakhir dalam perjalanan kami. Pukul 18.00 sampai juga di Terminal Surabaya. Tak diduga. Ternyata masih ada musibah lain yang menimpa kami, tepatnya diriku. 1 jam lebih diriku duduk di samping waria dan tak bisa berpindah tempat karena kursi sudah penuh terisi. Beruntung si waria tak begitu agresif. Hanya terkadang menyenggol badanku dan sempat terjadi sedikit percakapan.

“Mau turun mana?” aku ditanyanya.
“Surabaya,” jawabku tegas.
Selang beberapa lama…
“Kamu ikut voli ya?” tanyanya lagi dengan nada lembut khas waria.
“Enggak, kenapa?” ah, aku keceplosan bertanya, seharusnya aku menyudahi percakapan tak bermakna ini.
“Tinggi,” ia menjawab sambil matanya menatapku lekat-lekat.
“………” aku diam membisu. Dilema, antara senang mendapat pujian dan jijik karena yang memuji waria.
Yah, begitulah nasibku kala itu.

            Tanpa pikir panjang lagi, kami memilih untuk naik bis patas Eka tujuan Jogja. Kami sudah terlalu lelah untuk berlama-lama lagi dengan naik bis ekonomi. Tak disangka penumpang yang menunggu bis sangat banyak. Sempat diriku terjatuh karena terdorong penumpang yang berjejal masuk sebelum akhirnya aku berhasil mendapatkan 3 deret kursi di paling belakang. Alhamdulillah, leganya. Tarif bis ini (Rp73.000) tanpa makan.

(Pengeluaran hari ke-6 : Rp132.500)

Minggu, 7 Juli 2013
           
            Kami sampai di Jogja dengan selamat pukul 03.00 membawa kenangan indah dari Lombok. 42 jam kami berjalan tanpa henti. Sebuah pengalaman yang luar biasa. Kami bisa menyelesaikan perjalanan ini karena kami percaya akan satu sama lain dan kami bisa selamat sampai tujuan karena kami tak pernah lupa dengan yang menciptakan pengalaman ini. Perjalanan ini tak hanya berkisah suka, banyak juga duka melanda. Kepuasanlah yang didapat bila dapat melalui semua itu. Dengan uang yang pas-pasan kami bisa pergi ke Lombok dengan bahagia. Dan aku sadar bahwa kebahagiaan tak berbanding lurus dengan uang. Kebahagian hanya bisa didapat oleh orang yang pandai bersyukur.

Total pengeluaran selama 6 hari :
Hari 1 : Rp107.000

Hari 2 : Rp315.000

Hari 3 : Rp  68.500

Hari 4 : Rp174.000

Hari 5 : Rp205.000
Hari 6 : Rp132.500
------------------------ +
          Rp1.002.000
*kerugian bis mogok, pembatalan tiket kereta, dan oleh-oleh tak dihitung


FOTO :














THE END
Terimakasih sudah membaca.

@novardinr

Share: