21/10/12

Part 1 - Papua dan Pengalamanku


Sekolah Dasar adalah masa yang indah. Di waktu SD kita bisa bebas bermain, tertawa lepas, dan tak ada kepenatan. SD, dimana aku mulai memahami apa itu arti teman. Dimana hidup tak ada tekanan dan tak pernah membosankan. Singkat cerita, waktu itu aku masih kelas 4. Aku mendapat kabar bahwa aku harus pindah di daerah dimana ayahku ditugaskan. Aku merasa kesenangan SDku akan musnah. Kegembiraan yang ada akan terhenti digantikan oleh tekanan dan kebencian. Awalnya aku sulit untuk menerima ini semua. Meninggalkan teman-teman baikku. Meninggalkan sejuta kenangan indahku. Sempat berpikir tak ingin pergi, namun apakah aku mampu untuk hidup sendiri di sini? Aku ini masih kecil, belum bisa mandiiri! Kegelisahan itu selalu muncul...

Malam terus berganti perpisahan tinggal menghitung hari. Beberapa hari setelah gempa terjadi, aku benar-benar akan pergi, pergi dari kotaku tercinta, Yogyakarta. Salam perpisahan ku ucapkan ke semua orang yang ku kenal...

Waktu itu aku sudah kelas 5, hari itu seharusnya adalah hari pertama masuk sekolah, tetapi transit beserta perjalanannya yang membosankan mengganggu semuanya. Tujuanku ialah Biak, Papua. Iya, Papua. Aku tau bayangan kalian semua tentang Papua, tapi tunggu dulu.

Aku disekolahkan di SD Yapis I Biak. Aku baru tau kalau pejuang HAM, Munir, adalah alumnus Yapis Jayapura. Berarti baguslah aku sekolah di situ. Hari ke-2 masuk sekolah, aku baru sampai di rumah dinas. Aku pertama masuk sekolah di hari ke-3. Aku ingat sekali, aku dan adikku diantar ayahku naik kol, orang-orang Biak biasa menyebutnya taksi. Ayahku berseragam kantor, tak takut seragamnya lusuh atau lecek.

Sesampai di sekolah, Bu Ratna guru yang masih muda, mengantarkanku menaiki tangga, menyusuri kelas-kelas, menuju kelas VB. Duduklah aku dengan Firman di bangku paling kiri deretan ke-4.
Semua begitu berbeda di sini. Ternyata banyak pendatang seperti aku di sini. Tak seperti yang kalian baynagkan tadi, hitam dan kriwil orang-orangnya. Iya kan? Di Papua juga bukanlah hutan belantara. Ada hutan, namun aku tinggal di kota. Aku mendiami rumah dinas peninggalan Belanda. Lahannya sangat luas, temboknya tebal, bangunannya kokoh, lantainya semen, dan jendelanya besar. Suasananya pun menyeramkan. Jarang jika aku sendirian di rumah.

Hari-hari membosankan terus berlalu, untunglah teman-teman di Biak itu ramah dan baik. Namun ada juga yang sering menggangguku, namanya si jago atau di Yogya sering disebut gentho.

Bersambung....
Share:

Your Seat Number

I Was Here

Novardin’s Travel Map

Novardin has been to: France, Greece, Indonesia, Italy, Malaysia, Netherlands, Russia, Singapore, Spain, Switzerland, Thailand.
Get your own travel map from Matador Network.

Contact

Nama

Email *

Pesan *