18/02/12

,

Petani yang Sukses


Pagi yang cerah di sebuah desa. Burung-burung berkicau indah mengalunkan melodi alam yang merilekskan jiwa. Udara berhembus sejuk menambah suasana nyaman di pagi hari.

Di sebuah desa, ada salah satu gubuk yang didiami pasangan muda. Bernama Toto dan Titi istrinya. Toto adalah seorang petani. Ia sudah diajari keahlian bertani oleh orang tuanya sejak kecil. Toto sudah mengetahui teknik-teknik bertani yang baik.

Toto hanya memiliki sebuah sawah yang tak terlalu besar. Dibanding dengan petani-petani yang lain, sawah Totolah yang paling kecil. Sehingga pada saat musim panen tiba, sudah pasti jika hasil yang didapat juga tak seberapa. Namun itu cukup untuk menghidupi Toto dan istrinya.

Di malam yang sunyi ditemani terangnya sang rembulan, Toto dan Titi berbicara di teras gubuk. “Ti, aku mempunyai suatu pemikiran yang tak biasa.”, ucap Toto. “Apa itu Kang Mas?”, tanya Titi heran. Toto menjawab, “Aku berencana untuk dapat memanen padi di musim kemarau maupun musim hujan.” Itulah yang ada di pikiran Toto saat itu. Ia ingin dapat memanen padinya di segala waktu tak peduli musim. Padahal kita tahu, panen hanya dapat dilakukan saat musim kemarau. Saat musim hujan datang petani biasanya tak menanam padi dan menggantinya dengan tanaman yang lebih cocok. Bagaimana bisa musim hujan Toto bisa memanen padinya? Air hujan yang tumpah bisa menenggelamkan padinya dan bisa membuat padi itu layu.

Karena menurut warga desa Toto telah melakukan hal yang mustahil dan sangat aneh, banyak warga yang sering mengejek. Warga sering membicarakan perilaku aneh Toto ini. Bahkan tak jarang ada yang menghinanya langsung. Toto tak peduli dengan apa yang mereka katakan. Ia tetap pada pendiriannya. Saat musim hujan datang, ia mencoba menanam padi dengan pupuk yang ia buat sendiri. Namun ternyata gagal panen. Wargapun menertawakannya, mencercanya lagi habis-habisan. Akan tetapi Toto tetap berusaha. Ia selalu mencoba-coba pupuk dengan komposisi yang berbeda-beda setiap ia menanam padi. Ia menciptakan sendiri pupuk untuk sawahnya itu. Terus-menerus ia gagal panen. Tiba-tiba pada musim hujan yang ke Sembilan, Toto berhasil memanen padi di saat musim hujan. Sawah Toto tak kebanjiran karena pengairan yang sangat baik. Toto member pupuk yang pas pada padinya. Toto satu-satunya petani yang memanen padi di kala petani-petani lain menanti musim kemarau untuk menanam padi.

Banyak warga terkejut dan heran. Mereka malu karena sebelumnya sering menertawakan Toto. Di balik banyaknya kegagalan yang Toto alami, ada hasil yang begitu berharga.

Walau sawah Toto tak seberapa, tetapi dalam setahun panennya melebihi petani padi lainnya. Hasil panen yang melimpah itu sebagian untuk makan keluarganya dan sebagian yang lebih banyak ia jual ke pasar. Kini Toto dan Titi kehidupannya lebih layak dari sebelumnya dan sudah tinggal di rumah besar, tak lagi gubuk.

Kehidupannya lama-kelamaan berubah. Ia bertekad mendirikan perusahaan yang memproduksi beras dengan bibit unggul. Ia mempekerjakan beberapa orang yang sudah ia latih. Hari demi hari perusahaannya sudah menjadi perusahaan yang mapan. Berasnya kini sudah diekspor ke beberapa negara pula. Toto menjadi direktur, sedangkan Titi menjadi sekretarisnya. “Halo Pak Bos,” kata Titi kepada Toto. “Iya Bu sekretaris,” timpal Toto. Begitulah candaan mereka sehari-hari ketika berada di kantor. Harta mereka selalu bertambah karena perusahaannya selalu laba. Ini karena buah usaha Toto dan juga doa Titi yang selalu mengiringi usaha Toto. Mereka tak lupa mensedekahkan sebagian hartanya kepada warga yang kurang mampu. Kini mereka menjadi orang menengah atas yang tak lupa dengan yang bawah. Hidup mereka yang tadinya pas-pasan, tak berarti untuk warga sekitarnya, kini semuanya itu telah berubah menjadi indah berkat sang petani yang sukses, Toto.
Oleh : Novardin Rizkidwikusuma
Share: